Asam lemak omega-3 merupakan pangan fungsional yang memiliki peran penting dalam menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler serta meningkatkan perkembangan fungsi visual dan otak pada bayi, anak-anak, dan remaja. Liu et al., 2022 menyatakan bahwa konsumsi asam lemak omega-3 secara optimal dapat meringankan gejala penyakit neurodegenerative dan gangguan mental, seperti penyakit Alzheimer, Parkinson, dan depresi. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar masyarakat membutuhkan omega-3.
Asal Omega-3
Secara umum sumber omega-3 berasal dari ikan. Akan tetapi omega-3 yang diproduksi dari ikan tidak dapat memenuhi permintaan global. (Sayeda, Ali and El-Baz, 2015) mengungkapkan fakta bahwa, produksi omega-3 dari ikan berpotensi mengakibatkan terjadinya kesenjangan sumber daya ikan hingga 1,1 juta ton setiap tahunnya. Hal tersebut meningkatkan peluang terjadinya eksploitasi terhadap sumber daya laut dan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem.
Selain itu, omega-3 dari ikan memiliki peluang terjadinya akumulasi racun, aroma yang kurang sedap, rasa, dan stabilitas oksidatif yang kurang baik sehingga dapat membatasi aplikasi omega-3 dari ikan sebagai baik sebagai bahan tambahan makanan maupun suplemen. Salah satu sumber omega-3 yang berkelanjutan yaitu Mikroalga. Mikroalga telah dianggap sebagai sumber omega-3 yang berkelanjutan karena kemampuannya untuk tumbuh dan mengakumulasi kandungan asam lemak yang tinggi pada kondisi yang tidak menguntungkan. Asam lemak omega-3 dihasilkan dari proses ekstraksi mikroalga Spirulina platensis.
Mikroalga sebagai Sumber Omega-3 Berkelanjutan
Spirulina platensis merupakan alga hijau-biru yang mengandung pigmen kartenoid, karbohidrat serta asam lemak (Lasmarito, Widianingsih and Endrawati, 2022). Spirulina platensis menghasilkan ALA hingga 40,7% yang menjadi prekursor EPA dan DHA. Kedua senyawa tersebut telah dinyatakan berstatus GRAS oleh Badan Kemananan pangan Amerika (US-FDA) (Liu et al.,2022). Hal ini membuat mikroorganisme Spirulina platensis menjadi alternatif sumber produksi omega-3 yang berkelanjutan di masa depan.
Proses produksi omega-3 dari mikroalga menggunakan metode ekstraksi soxletasi. Metode soxhletasi merupakan metode ekstraski sederhana dengan memanfaatkan pelarut organik. (Puspitasari and Proyogo, 2017), menyatakan bahwa, metode ekstraksi tersebut mampu menghasilkan rendemen yang lebih banyak dengan jumlah pelarut yang kecil. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Sayeda, Ali and El-Baz, 2015), ekstraksi omega-3 metode soxhletasi dengan pelarut heksana dan isopropanol menghasilkan sumber omega-3. (hingga 21,17%) tertinggi oleh Spirulina platensis dibandingkan dengan Chlorella vulgaris (4,9%). Badan keamanan pangan eropa (ESFA) menyatakan bahwa mikroorganisme Chlorella Vulgaris aman digunakan sebagai produksi nutrisi tubuh manusia (Liu et al., 2022).
Meskipun aman, asam lemak omega-3, EPA, dan DHA yang dihasilkan tidak stabil terhadap oksigen karena mengandung ikatan rangkap sehingga rentang terjadi degradasi oksidatif. Proses degradasi oksidatif mampu menurunkan kualitas sensori produk (seperti rasa dan bau yang tidak enak) serta bioavailabilitas senyawa omega-3. Alternatif yang ditawarkan untuk mencegah terjadinya degradasi asam lemak omega-3 dan meningkatkan stabilitasnya yaitu dilakukan nanoenkapsulasi.
Nanoenkapsulasi sebagai Strategi Peningkatan Stabilitas Omega-3
Proses nanoenkapsulasi menghasilkan skala nano sehingga dapat meningkatkan reaktivitas senyawa. (Blanco-Llamero et al., 2022) telah melakukan nanoenkapsulasi omega-3 yang dihasilkan oleh mikroalga Nannochlorpsis gaditana. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa efisiensi nanoenkapsulasi omega-3 yang dihasilkan lebih dari 60% dengan kandungan EPA sebesar 37.47%.
Pemaparan diatas, telah menunjukkan bahwa Spirulina platensis memiliki potensi besar sebagai sumber Omega-3 yang berkelanjutan tanpa menyebabkan eksploitasi lingkungan. Proses produksi omega-3 mikroalga melalui ekstraksi metode soxhletasi. Omega-3 yang dihasilkan sebaiknya di integrasikan dengan teknologi nanoenkapsulasi untuk mempertahankan senyawa bioakif dan efekivitasnya.
Referensi:
Liu, Y., Ren, X., Fan, C., Wu, W., Zhang, W. & Wang, Y., 2022. Health benefits, food applications, and sustainability of microalgae-derived N-3 PUFA. Foods, 11(13), p.1883.
Blanco-Llamero, C. et al. (2022) ‘Development of Lipid Nanoparticles Containing Omega-3-Rich Extract of Microalga Nannochlorpsis gaditana’, Foods, 11(23). Available at: https://doi.org/10.3390/foods11233749.
Sayeda, M.A., Ali, G.H. and El-Baz, F.K. (2015) ‘Potential production of omega fatty acids from microalgae’, International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, 34(2), pp. 210–215.
Tentang PT Alga Bioteknologi Indonesia (ALBITEC)
PT Alga Bioteknologi Indonesia (Albitec) adalah perusahaan bioteknologi berbasis di Semarang. Berfokus pada penelitian, budidaya, dan produksi spirulina air tawar berkualitas tinggi. Produk Albitec juga telah digunakan secara luas untuk menunjang gaya hidup sehat, kecantikan alami, serta penguatan gizi masyarakat.
Proses produksi dilakukan dengan prinsip ramah lingkungan dan telah memenuhi standar nasional maupun internasional. Selain itu, Albitec juga aktif dalam kegiatan edukatif seperti Visit Farm dan Spirulina Short Design Course (SSDC). Hal ini sebagai upaya untuk membangun ekosistem mikroalga yang inklusif dan berkelanjutan.
Penulis: Fina Ismatul Maula
Editor: Esperita