Seiring berjalannya waktu, tren fashion ikut mengalami perkembangan. Namun, jenis pewarna sintesis, yang dihasilkan dari bahan-bahan kimia dengan sifat tidak ramah lingkungan masih banyak digunakan sampai saat ini. Selain itu, adanya emisi mikroplastik, terutama dari limbah tekstil, semakin menambah kekhawatiran global.
Spirulina sebagai Pewarna Alami
Hingga saat ini, berbagai upaya mulai dilakukan oleh peneliti untuk menekan dampak buruk tersebut. Salah satu organisme fitoplankton yang mampu berfotosintesis, yaitu spirulina, berpotensi menjadi superhero yang dapat menghasilkan warna alami. Biopigmen yang dimilikinya, yaitu klorofil, xantofil, karoten, dan fikosianin digadang-gadang menjadi solusi alternatif berkelanjutan sebagai pengganti pewarna sintesis.
Kelebihan Budidaya Spirulina
Spirulina merupakan ganggang hijau-biru dengan ukuran sangat kecil (mikro) yang memiliki warna hijau dari klorofil, dan warna biru dari fikosianin. Harganya yang murah, mudah didapatkan, produktivitas yang tinggi, dan dapat terurai secara hayati menjadikan ganggang ini sebagai keuntungan yang menjanjikan. Selain itu, dalam budidayanya pun, menggunakan lahan non subur, dan penggunaan air tawar yang minimal.
Proses Pewarnaan dengan Spirulina
Biomassa untuk ekstraksi pigmen dapat berupa bentuk basah (pasta) maupun kering (bubuk). Bentuk pasta diaplikasikan pada teknik lukis, block printing, dan sablon, sedangkan bentuk bubuk diaplikasikan pada sulam dengan benang, block printing, dan tie dye. Dalam prosesnya, pencelupan warna spirulina dilakukan pada suhu dingin atau rendah, dengan pH asam. Warna yang alami ini akan terikat secara optimal pada kain yang berserat alami juga.
Tantangan Pewarnaan menggunakan Spirulina
Walaupun spirulina memiliki potensi yang besar di masa depan – sekaligus mencapai misi berkelanjutan, masih ditemukan adanya tantangan. Penelitian oleh Ciptandi et al. (2021) menunjukkan hasil pewarnaan spirulina yang memiliki ketahanan luntur yang rendah, sehingga tidak dapat digunakan pada kain yang akan mengalami pencucian berulang.
Meskipun begitu, para peneliti terus melakukan eksperimen dalam mencari bahan pengikat dan pelapis alami yang dapat memungkinkan diaplikasikan secara efektif. Selain itu, masih dalam penelitian yang sama oleh Ciptandi et al. (2021) proses pewarnaan metode mordan dan fiksasi mampu menghasilkan berbagai macam warna. Maka, dari satu agen alami ini, dunia fashion mendatang akan semakin berwarna dengan tidak memberikan efek samping bagi bumi kita.
Referensi:
Aghniya, Y., Ciptandi, F. (2020). PENERAPAN PEWARNA ALAM MIKROALGA PADA TEKSTIL MENGGUNAKAN TEKNIK TIE DYE. e-Proceeding of Art & Design : Vol.7, No.2. 2940-2958.
Blanckart, L., Munasinghe, E. A., Bendt, E., Rahaman, A., Abomohra, A., & Mahltig, B. (2025). Algae-Based Coatings for Fully Bio-Based and Colored Textile Products. Textiles, 5(1), 3.
Ciptandi, F., Susilowati, T. H., & Ramadhan, M. S. (2021). Opportunities of using Spirulina platensis as homemade natural dyes for textiles. Open Agriculture, 6(1), 819–825.
Tentang PT Alga Bioteknologi Indonesia (ALBITEC)
PT Alga Bioteknologi Indonesia (Albitec) adalah perusahaan bioteknologi berbasis di Semarang. Berfokus pada penelitian, budidaya, dan produksi spirulina air tawar berkualitas tinggi. Produk Albitec juga telah digunakan secara luas untuk menunjang gaya hidup sehat, kecantikan alami, serta penguatan gizi masyarakat.
Proses produksi dilakukan dengan prinsip ramah lingkungan dan telah memenuhi standar nasional maupun internasional. Selain itu, Albitec juga aktif dalam kegiatan edukatif seperti Visit Farm dan Spirulina Short Design Course (SSDC). Hal ini sebagai upaya untuk membangun ekosistem mikroalga yang inklusif dan berkelanjutan.
Penulis: Maharani Purvitasari
Editor: Esperita