Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Anopheles. Proses terjadinya penyakit malaria melalui transfusi darah, jarum suntik, serta ibu hamil kepada bayinya (Wulandari et al., 2016). Malaria menjadi isu global penyebab morbiditas dan mortalitas, terkhusus pada negara berkembang dan beriklim tropis. Menurut data WHO, pada tahun 2019 terdapat 229 juta kasus malaria dengan angka kematian sebesar 409.000 jiwa di 87 negara (Edgar, 2022). Sementara itu, pada tahun 2019 diperkirakan sebanyak 250.644 kasus malaria terjadi Indonesia dan 15% diantaranya terjadi pada bayi dan balita (Sari et al., 2024).
Tantangan Pengobatan Malaria
Resistensi artemisinin sebagai obat malaria menjadi salah satu faktor pendukung keparahan gejala yang terjadi. Resistensi obat dapat menyebabkan kematian akibat timbulnya komplikasi penyakit, seperti liver, ginjal, keguguran, dan lainnya. Oleh karena itu, diperlukan substitusi obat baru yang alami dan aman bagi penderita. Salah satu senyawa alami yang dapat diimplementasikan ialah fikosianin yang berasal dari mikroalga Spirulina platensis (Wulandari et al., 2016).
Potensi Fikosianin untuk Mengatasi Malaria di Indonesia
Fikosianin adalah protein yang tergolong ke dalam kelompok fikobiliprotein berwarna biru berperan sebagai penyimpan nitrogen pada Cyanobacter (Wulandari et al., 2016). Fikosianin mengandung antioksidan alami yang larut dalam air (Astuty et al., 2024). Pigmen fikosianin dapat membantu meningkatkan aktivitas antibodi untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, maupun parasit. Pankaj et al. (2010) dalam penelitiannya membuktikan bahwa fikosianin dapat menghambat pertumbuhan Plasmodium falciparum penyebab malaria (Wulandari et al., 2016). Fikosianin mempunyai kemampuan melindungi stres oksidatif pada protein membran sel darah merah (eritrosit) untuk mencegah kerusakan kerangka eritrosit. Selain itu, mekanisme kerja fikosianin sebagai agen antimalaria dengan menghancurkan polimerisasi haemozin yang berikatan dengan FP-IX (Astuty et al., 2024).
Potensi fikosianin sebagai antimalaria dapat menjadi langkah awal penanganan malaria yang semakin masif terkhusus di Indonesia sebagai wilayah endemis malaria. Selain itu, penggunaan fikosianin dapat menjadi alternatif pemanfaatan bahan alami untuk mengatasi resistensi obat komersial yang sudah ada.
Referensi:
Astuty, H., & Nisrina, A. (2025). Manfaat Penggunaan Kombinasi Spirulina dengan Klorokuin sebagai Anti-Malaria pada Mencit yang Terinfeksi Plasmodium Berghei. Pratista Patologi, 10(1).
Edgar, D. (2022). Faktor Kondisi Fisik Rumah Yang Berhubungan Dengan Kejadian Malaria. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 4(1), 149-156.
Sari, H. N., Zein, U., Lestari, I. C., & Bestari, R. (2024). PROFIL PASIEN MALARIA DI TIGA DESA ENDEMIK MALARIA KECAMATAN TANJUNG BERINGIN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI TAHUN 2022. Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan-Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, 23(2), 227-234.
Wulandari, D. A., Setyaningsih, I., Syafrudin, D., & Asih, P. B. S. (2016). Ekstraksi fikosianin dari Spirulina platensis dan aktivitas antimalaria secara invitro. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, 19(1), 17-25.
Tentang PT Alga Bioteknologi Indonesia (ALBITEC)
PT Alga Bioteknologi Indonesia (Albitec) adalah perusahaan bioteknologi berbasis di Semarang. Berfokus pada penelitian, budidaya, dan produksi spirulina air tawar berkualitas tinggi. Produk Albitec juga telah digunakan secara luas untuk menunjang gaya hidup sehat, kecantikan alami, serta penguatan gizi masyarakat.
Proses produksi dilakukan dengan prinsip ramah lingkungan dan telah memenuhi standar nasional maupun internasional. Selain itu, Albitec juga aktif dalam kegiatan edukatif seperti Visit Farm dan Spirulina Short Design Course (SSDC). Hal ini sebagai upaya untuk membangun ekosistem mikroalga yang inklusif dan berkelanjutan.
Penulis: Aura Salsabilla Fitri
Editor: Esperita