Obesitas merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, seperti dislipidemia, hipertensi, hiperglikemia, dan diabetes melitus. (Setia et al., 2019). Obesitas telah menjadi salah satu masalah kesehatan global yang paling mengkhawatirkan. Data RISKESDAS 2018 menunjukkan bahwa 21,8% penduduk Indonesia dewasa mengalami obesitas naik signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini tidak hanya terkait penampilan, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit kronis seperti jantung koroner, stroke, diabetes melitus, dan gangguan metabolik (Guyton, 2007).
Obesitas terjadi karena penumpukan lemak tubuh yang berlebihan, yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah dan ukuran sel lemak (adiposit). Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan sosial, gangguan saraf maupun hormonal, usia, serta stres. Selain itu, kebiasaan merokok, pola makan tinggi lemak, karbohidrat, dan gula, konsumsi alkohol, serta gaya hidup tidak aktif juga berperan. Kompleksitas penyebab tersebut menjadikan obesitas memerlukan penanganan yang komprehensif dan berkelanjutan.
Spirulina sebagai Alternatif Alami untuk Mengatasi Obesitas
Berbagai strategi telah dikembangkan untuk mengatasi obesitas, terutama melalui upaya penurunan berat badan. Penurunan berat badan umumnya dilakukan melalui diet, olahraga, farmakoterapi, hingga tindakan bedah. Namun, keterbatasan penerapan jangka panjang dan efek samping sering menjadi hambatan. Oleh karena itu, terapi alternatif berbasis bahan alami kini menjadi pilihan menarik. Salah satunya adalah spirulina, ganggang hijau-biru yang kaya akan nutrisi dan dikenal sebagai “superfood.” Spirulina menurunkan berat badan melalui berbagai mekanisme metabolik yang kini banyak diteliti.
Kandungan Nutrisi Spirulina untuk Menurunkan Berat Badan
Spirulina mengandung beragam mikronutrien dan antioksidan, di antaranya fikosianin dan beta-karoten, yang berperan penting dalam menurunkan berat badan (Capelli Bob, 2010). Fikosianin bekerja dengan mengikat radikal bebas dan menekan aktivitas inflamasi dalam tubuh. Efek antioksidan ini menghambat ekspresi enzim iNOS dan proses lipid peroksidasi, yang secara langsung menurunkan kadar lemak darah jahat seperti VLDL dan LDL, sekaligus meningkatkan HDL (kolesterol baik) (Hernandez, et al., 2018).
Mekanisme Fikosianin dalam Mengatur Lemak dan Glukosa
Selain itu, kandungan fikosianin pada spirulina memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar glukosa darah, yang secara tidak langsung mengurangi pemanfaatan glukosa dalam tubuh penderita obesitas, serta menghambat proses pembentukan lemak (lipogenesis). Dalam jaringan lemak (adiposa), proses lipogenesis menghasilkan berbagai senyawa seperti adipokin, yang memainkan peran penting dalam metabolisme lemak. Spirulina bekerja dengan menurunkan stres oksidatif dan peradangan, terutama melalui mekanisme penetralan radikal bebas dan spesies oksigen reaktif (ROS). Selain itu, spirulina juga mampu menekan aktivitas faktor transkripsi NF-kB serta menghambat produksi sitokin proinflamasi, sehingga sekresi adipokin dan pembentukan lemak dalam jaringan adiposa dapat ditekan (Yousefi R, et al., 2018).
Studi Efektivitas Spirulina terhadap Penurunan Berat Badan
Berbagai studi memperkuat potensi spirulina menurunkan berat badan. Penelitian Choi et al. (2015) menemukan bahwa spirulina dapat menekan kenaikan berat badan hingga 38% pada tikus gemuk dengan mengaktifkan AMPK, enzim yang menghambat pembentukan lemak. Studi lain oleh Zhao et al. (2019) menunjukkan bahwa protein spirulina memodulasi sumbu otak–hati, sehingga membantu mengendalikan nafsu makan dan metabolisme lemak secara sistemik.
Kesimpulan
Spirulina memiliki potensi besar sebagai terapi penurunan berat badan yang alami dan aman. Kandungan antioksidan tinggi, efek anti-inflamasi, dan kemampuan menekan pembentukan lemak dari spirulina berpotensi menjadi suplemen pendukung yang efektif bagi individu obesitas. Namun, seperti terapi lain, konsumsi spirulina sebaiknya tetap diimbangi dengan perubahan gaya hidup, pola makan sehat, dan aktivitas fisik teratur untuk hasil maksimal.
Referensi:
Guyton, A. C., & Hall, J. E. (2007). Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI: Obesitas (hal. 1–2). Jakarta: Kemenkes RI.
Capelli, B., & Cysewski, G. R. (2010). A review research of the existing literature: Potential health benefits of spirulina microalgae. Nutra Foods, 9(2), 19–26.
Choi, H. S., Jeon, H. J., Lee, O. H., & Lee, B. Y. (2015). Major phlorotannin in Ecklonia cava suppresses lipid accumulation in the adipocytes of high-fat diet-fed zebrafish and mice: Inhibition of early adipogenesis via cell-cycle arrest and AMPK activation. Molecular Nutrition & Food Research, 59(8), 1458–1471. https://doi.org/10.1002/mnfr.201500021
Hernandez, A., Alberto, J., Oropeza, P., Medrano, R., & Ramos, P. (2018). Effect of Arthrospira (Spirulina) maxima supplementation and a systematic physical exercise program on the body composition and cardiorespiratory fitness of overweight or obese subjects: A double-blind, randomized, and crossover controlled trial. Marine Drugs, 16(364). https://doi.org/10.3390/md16090364
Yousefi, R., Mottaghi, A., & Saidpour, A. (2018). Spirulina platensis effectively ameliorates anthropometric measurements and obesity-related metabolic disorders in obese or overweight healthy individuals: A randomized controlled trial. Complementary Therapies in Medicine, 41, 19–26. https://doi.org/10.1016/j.ctim.2018.08.008
Zhao, B., Cui, Y., Fan, X., Qi, P., Liu, C., & Zhou, X. (2019). Anti-obesity effects of Spirulina platensis protein hydrolysate by modulating brain–liver axis in high-fat diet-fed mice. PLoS ONE, 14(6), e0218543. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0218543
Setia, A., Sutiyarso, & Darwis, I. (2019). Efek pemberian ekstrak Spirulina (Arthrospira) dalam terapi obesitas. Medula, 9(3), 218–223.
Tentang PT Alga Bioteknologi Indonesia (ALBITEC)
PT Alga Bioteknologi Indonesia (Albitec) adalah perusahaan bioteknologi berbasis di Semarang. Berfokus pada penelitian, budidaya, dan produksi spirulina air tawar berkualitas tinggi. Produk Albitec juga telah digunakan secara luas untuk menunjang gaya hidup sehat, kecantikan alami, serta penguatan gizi masyarakat.
Proses produksi dilakukan dengan prinsip ramah lingkungan dan telah memenuhi standar nasional maupun internasional. Selain itu, Albitec juga aktif dalam kegiatan edukatif seperti Visit Farm dan Spirulina Short Design Course (SSDC). Hal ini sebagai upaya untuk membangun ekosistem mikroalga yang inklusif dan berkelanjutan.
Penulis: Gusti Ayu Chanda Resi Maretha
Editor: Esperita