Spirulina platensis dapat digunakan berpotensi untuk mendukung terapi dislipidemia. Dislipidemia merupakan kondisi medis yang ditandai oleh abnormalitas kadar lipid dalam darah, seperti peningkatan kadar kolesterol total, LDL (low-density lipoprotein), dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (high-density lipoprotein). Kadar LDL yang tinggi dapat menyebabkan penumpukan pada dinding pembuluh darah arteri, membentuk plak aterosklerotik (Ma’rufi, 2014). Kondisi ini merupakan salah satu faktor utama pemicu penyakit kardiovaskular di Indonesia (Putri & Noviyani, 2024).
Spirulina adalah mikroalga berbentuk filamen berwarna biru-hijau (Cyanobacteria) sebagai sumber protein alternatif berkelanjutan karena kandungan nutrisinya yang tinggi. Selain mengandung protein dalam jumlah tinggi (sekitar 53–67%), Spirulina platensis juga kaya akan vitamin, mineral, senyawa bioaktif, dan senyawa fenolik (Rahmasari et al., 2025). Spirulina memiliki berbagai khasiat kesehatan dan telah banyak dimanfaatkan sebagai suplemen herbal untuk membantu terapi penyakit kardiovaskular, termasuk dislipidemia. Berbagai aktivitas farmakologis telah dikaitkan dengan spirulina, di antaranya aktivitas antioksidan, antiinflamasi, hipolipidemik, antidiabetes, dan neuroprotektif (Putri & Noviyani, 2024). Beberapa senyawa bioaktif yang terkandung dalam spirulina yang berperan untuk terapi dislipidemia adalah saponin, phycocyanin, polisakarida, dan flavonoid.
Flavonoid dalam spirulina dapat menurunkan kadar kolesterol. Hal tersebut melalui proses penghambatan adipogenesis, peningkatan lipolisis, dan pereduksi sintesis kolesterol di hati (Rahmasari et al., 2025). Kandungan saponin pada spirulina dapat mengurangi kelarutan misel kolesterol, yang dapat menurunkan penyerapan kolesterol oleh tubuh. Saponin diketahui membentuk kompleks tidak larut dengan kolesterol, sehingga mengurangi penyerapan kolesterol di usus. Proses ini mengarah pada peningkatan ekskresi asam empedu, yang selanjutnya menurunkan kadar kolesterol (Rahmasari et al., 2025). Kandungan Phycocyanin memiliki kemampuan untuk mengikat radikal bebas, termasuk radikal alkoxyl, hidroksil, dan peroksil. Hal ini mengurangi produksi nitrit, menekan ekspresi inducible nitric oxide synthase (iNOS), dan menghambat lipid peroksidasi (Sakti et al., 2015). Tak hanya itu, spirulina memperlihatkan aktivitas biologis lainnya, seperti antimikroba, imunostimulan, antiinflamasi, dan antikarsinogenik.
Tentang PT Alga Bioteknologi Indonesia (ALBITEC)
PT Alga Bioteknologi Indonesia (Albitec) adalah perusahaan bioteknologi berbasis di Semarang. Berfokus pada penelitian, budidaya, dan produksi spirulina air tawar berkualitas tinggi. Produk Albitec juga telah digunakan secara luas untuk menunjang gaya hidup sehat, kecantikan alami, serta penguatan gizi masyarakat.
Proses produksi dilakukan dengan prinsip ramah lingkungan dan telah memenuhi standar nasional maupun internasional. Selain itu, Albitec juga aktif dalam kegiatan edukatif seperti Visit Farm dan Spirulina Short Design Course (SSDC). Hal ini sebagai upaya untuk membangun ekosistem mikroalga yang inklusif dan berkelanjutan.
Penulis: Melinda Surya Sutedjo
Editor: Fariza Zora